Sabtu, 14 Juni 2008 ] Polisi Tangkap Geng Nero Seluruh Anggotanya Perempuan, Sebagian Sudah Pindah
PATI - Sehari setelah terekspos media massa, polisi langsung menangkap anggota Geng Nero yang meresahkan warga Pati, Jawa Tengah. Anggota geng yang terdiri atas pelajar putri itu ditangkap di rumah masing-masing. Dari enam anggotanya, hanya empat yang berhasil diamankan. Dua anggota yang lain sudah pindah ke luar kota.
Yang berhasil ditangkap adalah Rt, Yn, My, dan Tk. Keempatnya tercatat duduk di bangku kelas I SMA di Juwana. Penangkapan dilakukan berdasarkan video penganiyaan yang beredar dari telepon seluler.
Sebagaimana diberitakan kemarin, para orang tua, terutama yang memiliki anak remaja putri, resah karena ulah geng tersebut. Geng itu suka menganiaya remaja putri, merekamnya lewat video telepon seluler (ponsel), dan kemudian mengedarkannya.
Berdasarkan laporan warga masyarakat dan rekaman yang beredar itu, polisi memburu para anggota geng tersebut. Empat orang di antara enam anggota geng itu berhasil diringkus.
Seorang anggota geng tadi, Rt, mengaku melakukan penganiayaan karena ada masalah dengan korban. Lantas, dia menceritakan kepada ketiga rekannya sesama anggota Geng Nero.
Atas cerita itulah, mereka lantas menghajar korban. Namun, Rt tidak menjelaskan apa masalahnya dengan korban.
Pelaku menjelaskan, rekaman video dibuat sekitar April lalu di Gang Cinta. Dalam aksi itu, Rt mengaku tidak ikut memukuli korban. Yang menampar ialah Tk dan Yn.
Keempat anggota geng tersebut tidak ingat berapa kali melakukan perbuatan serupa. Mereka juga tidak ingat lagi siapa saja yang menjadi korban. Mereka juga menolak menyebutkan pimpinan geng. Hanya dijelaskan bahwa geng Kapolres Pati AKBP Hilman Thayib melalui Kasatreskrim AKP Sulkhan menerangkan, anggota Geng Nero enam orang. ”Saat ini hanya tinggal empat orang. Dua orang lainnya sudah pindah, ke Bali dan Jogjakarta,” terangnya.
tersebut terbentuk saat mereka duduk di bangku SMP.
Meski telah berkurang dua orang, geng itu tetap beraksi. Namun, baru empat orang korban yang berani melapor polisi. Dan, hingga kemarin, polisi masih memeriksa saksi guna penyelidikan lebih lanjut.
Atas perbuatan itu, pelaku akan dikenakan pasal 170 KUHP tentang Kekerasan. Ancaman hukumannya maksimal tujuh tahun penjara.
H Jamari, anggota komite sekolah di Kecamatan Juwana dan Batangan menjelaskan, nama Geng Nero bukan tanpa arti. Nero berasal dari kata neka-neka dikeroyok (macam-macam dikeroyok). Ketika ada pelajar putri yang dianggap macam-macam oleh geng tersebut, mereka tak segan menculik dan menganiaya.
Menurut dia, pihak sekolah mengetahui kasus itu sekitar sebulan terakhir. ”Pihak sekolah sudah memanggil orang tua para anggota Geng Nero,” jelas Jamari. (ris/jpnn/ruk
Duh bener nie tanda-tanya besar, klo selama ini kita terbiasa disuguhkan berita kekerasan yang dilakukan oknum mahasiswa yaitu di tingkat perguruan Tinggi misal STPDN, STIP dan diduga banyak lagi, ternyata kasus inipun terjadi di tingkat pelajar, perempuan lagi.
Hmm jangan-jangan pencitraan/sifat berdasarkan jenis kelamin ini sudah tak relevan lagi ya secara biasanya wanita identik dengan kelembutan, kepekaan, kasih sayang, ngemong, welas asih ya semacam itulah, tapi serasa agak janggal kalau mereka malah melakukan tindakan premanisme and kekerasan seperti macan betina bahkan dalam usia yang masih bau kencur.
Gejala apa ini, bukannya di rumah atau di sekolah mereka kan diberi pelajaran agama, budi pekerti, kemanusiaan, apalagi tindak perploncoan ini cuma dipicu oleh hal-hal sepele karena merasa diri lebih superior sebagai senior, persaingan yang ga penting menurut gw, eksistensi seperti bagaimana dan seperti apa yang ingin ditunjukkan mereka pada dunia??
Sudah tak mempankah pelajaran agama dan budi pekerti, sudah longgarkah pengawasan orang tua, kurang kasih sayangkah mereka, atau hanya luapan perasaan frustasi dan putus asa, atau punya masalah kejiwaan atau cuma faktor balas dendam, atau faktor apa ini, sepertinya masalah ini komplek ya entah dari mana harus memulai darimana menguraikannya, siapa yang lebih bertanggung jawab ? siapa yang lebih pantas disalahkan?? bagaimana peran para pendidik, orang tua, lingkungan bahkan negara untuk mencegah dan menanggulangi masalah ini.
http://nenyok.wordpress.com/2008/06/15/geng-nero-premanisme-pelajar/